Showing posts with label TNI AL. Show all posts
Showing posts with label TNI AL. Show all posts

Kapal Perang TNI AL Gelar Aarofex di Perairan Madura



28 Maret 2013, Surabaya: Kapal Perang Republik Indonesia (KRI) Sultan Iskandar Muda (SIM)-367 yang berada di jajaran Satuan Kapal Eskorta (Satkor) Koarmatim menembakkan roket sasaran udara dalam Latihan Parsial III Operasi Amfibi tahun 2013 disekitar perairan Madura, Selasa (26/03). Sedikitnya ada sepuluh roket yang diluncurkan ke udara yang disusul dengan rentetan tembakan meriam Penangkis Serangan Udara (PSU) kaliber 12,7 mm, 20 mm dan 25 mm.

Peluncuran roket dari KRI Sultan Iskandar Muda merupakan simulasi latihan menembak sasaran udara pada malam hari atau disebut dengan istilah Anti Air Rapid Open Fire Exercise (Aarofex). Roket tersebut merupakan jenis peluru untuk sasaran udara, pengelabuhan sasaran peluru kendali lawan sekaligus dapat memancarkan cahaya sangat terang (rocket flare). Dalam latihan itu roket yang diluncurkan disimulasikan sebagai pesawat terbang musuh.

Latihan menembak malam merupakan salah satu rangkaian Latihan Parsial III Operasi Amfibi 2013, dimana unsur-unsur Komando Tugas Gabungan Amfibi (Kogasgabfib) mendapat serangan udara dari pesawat intai musuh. Ancaman itu direspon oleh kapal-kapal perang yang tergabung dalam Kogasgabfib dengan memberikan perlawanan anti serangan udara.

Hal ini bertujuan untuk melindungi kapal pengangkut pasukan pendarat amfibi Marinir TNI AL yang diincar oleh pesawat udara musuh. Kemampuan pertahanan udara sangat dibutuhkan dalam gelar operasi amfibi, karena ancaman serangan udara musuh dapat berpotensi menimbulkan kerusakan yang signifikan bagi kapal perang bahkan dapat membuat misi menjadi gagal.



Oleh karena itu 20 unsur kapal perang yang terlibat dalam latihan perang tersebut berlomba untuk menjatuhkan target berupa roket flare yang ditembakkan dari KRI Sultan Iskandar Muda, dengan menembakkan meriam PSU yang dimiliki. Dari puluhan roket yang diluncurkan hampir seluruhnya dapat ditembak jatuh oleh kapal-kapal perang TNI AL.

Suasana malam hari di tengah laut perairan Utara Madura yang gelap dan sunyi, seketika itu pecah menjadi sebuah pertempuran udara yang seru. Kilatan cahaya roket yang meluncur diudara, terus diburu ribuan butir amunisi meriam Penangkis Serangan Udara, hingga dari beberapa roket itu jatuh ke Laut terkena tembakan.

Latihan perang malam hari tersebut disaksikan langsung oleh Panglima Komando Armada Timur (Pangarmatim) Laksamana Muda TNI Agung Pramono, S.H., M.Hum dan seluruh pejabat Latihan Parsial III Operasi Amfibi tahun 2013 yang berada di kapal markas KRI Makassar-590.

Sumber: Dispenarmatim


Tiga Kapal Perang Latihan Penembakan



27 Maret 2013, Jakarta: Tiga Kapal Perang Republik Indonesia (KRI) jajaran Komando Armada RI Kawasan Barat (Koarmabar) yang dipimpin Komandan Satuan Tugas (Dansatgas) Latihan Pratugas (Latpratugas) Siaga Tempur Laut (Purla) XIII/13 Kolonel Laut (P) Isbandi Andrianto, S.E., yang sehari-harinya menjabat sebagai Komandan Satuan Kapal Bantu (Dansatban) Koarmabar melakukan penembakan RBU dan Meriam Kaliber 57 mm dalam serial Latihan Pratugas (Latpratugas) Siaga Purla XIII/13 di perairan Laut Jawa, Rabu (27/3).

Ketiga kapal perang yang terlibat latihan tersebut masing-masing dua KRI berasal dari Satuan Kapal Eskorta (Satkor) Koarmabar yakni KRI Imam Bonjol (IBL-383) dan KRI Silas Papare (SRE-386) serta satu KRI dari Satuan Kapal Amfibi (Satfib) Koarmabar yakni KRI Teluk Celukan Bawang (TCB-532).

Selain melaksanakan latihan penembakan RBU dan meriam Kaliber 57 mm, ketiga kapal tersebut juga melaksanakan penembakan meriam kaliber 20 mm serta SSI kaliber 5,56 mm. Sehari sebelumnya kapal-kapal perang tersebut melaksanakan latihan peran melewati medan ranjau, RAS, formasi KRI serta peran kebakaran. Kemudian melaksanakan latihan peran pemeriksaan kapal yang merupakan latihan terakhir sebelum kapal-kapal perang tersebut kembali ke Pangkalan Pondok Dayung.

Latihan Pratugas yang dilaksanakan Koarmabar tersebut merupakan suatu bentuk latihan operasi tempur laut dengan memproyeksikan gelar unsur-unsur Sistem Senjata Armada Terpadu (SSAT) yang terdiri dari KRI, Pesawat Udara, Pasukan Marinir dan didukung oleh pangkalan-pangkalan TNI Angkatan Laut. Pelaksanaan Latihan Pratugas merupakan wujud dari tanggung jawab, pengabdian dan loyalitas dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Selain itu, Latihan Pratugas ini juga sebagai sarana uji terampil guna meningkatkan kualitas, kemampuan dan profesionalisme prajurit serta menjalin kerja sama antar unsur-unsur Koarmabar dalam tugas operasi tempur laut.

Sumber: Dispenarmabar


PT PAL Modernisasi KRI Karang Pilang-981



15 Maret 2013, Surabaya: Untuk mendukung blue print TNI Angkatan Laut tahun 2014 menuju Minimum Essential Force (MEF), Koarmatim melakukan modernisasi unsur-unsur yang berada dibawah jajarannya. Salah satu unsur tersebut adalah KRI Karang Pilang-981 yang berada dijajaran Satuan Kapal Bantu (Satban) Koarmatim. Modernisasi yang dilakukan meliputi penggantian sistem pendorongan (propulsi), perbaikan interior kapal serta persenjataannya dengan menambah dua pucuk meriam kaliber 20mm. Perbaikan ini dilakukan di Dock Ship Lift Divisi Kapal Perang PT. PAL.

Dalam perbaikan ini sistem permesinan KRI Karang Pilang yang tadinya menggunakan empat Mesin Pendorong Pokok (MPK) bertenaga Water Jet direvitalisasi menjadi dua MPK Shaft Propeler. Dengan adanya penggantian sistem pendorong pokok ini secara teknis dapat mengurangi laju kecepatan kapal, namun disisi lain dari segi operasional sangat positif dalam efisiensi bahan bakar. Memang dengan dua MPK Shaft Propeler kecepatan kapal akan turun dari 40 knot menjadi 18 knot, namun dari segi pemakaian bahan bakar dapat menghemat pemakaian dari 2 ton per jam menjadi 2 ton per hari.

Melihat sejarah KRI Karang Pilang-981, awalnya adalah kapal penumpang milik PT. Pelni dengan nama KM. Ambulu, dibuat pada tahun 1996 di galangan kapal Lurrsen Jerman. Kemudian pada tanggal 07 April 2006 kapal tersebut dihibahkan ke Angkatan Laut dan dipercayakan memperkuat jajaran Satban Koarmatim. Kapal perang ini sangat efektif dalam melaksanakan opersi tempur laut, hal ini disebabkan oleh bangunan kapal perang terbuat dari aluminium, yang sulit dideteksi oleh radar kapal perang musuh. Dominasi platform kapal dari alminium secara teknis jika terdeteksi radar kapal perang musuh, akan tampak samar. Hal itu dapat dijadikan sebagai sarana kamuflase dan pengelabuahan terhadap lawan.

Di jajaran Koarmatim, KRI Karang Pilang memilki fungsi sebagai Kapal Cepat Angkut Personel (KCP), diawakai sekitar 30 personel dengan Komandan Mayor Laut (P) Basuki Mulyo Wibowo. Kapal ini naik dock PT. PAL pada tanggal 19 Februari 2013, dan sempat ditinjau oleh Irjen TNI Letnan Jenderal TNI Gerhan Lantara, Rabu (13/3) kemarin.

Sumber: Dispenarmatim


PT. Daya Radar Utama Bangun Kapal Angkut Tank



1 Maret 2013, Jakarta: Wakil Asisten Logistik (Waaslog) Kasal Laksamana Pertama (Laksma) TNI Ir. Sayid Anwar membuka First Steel Cutting pembangunan Kapal Angkut Tank-3 TNI Angkatan Laut bertempat di galangan kapal PT. Daya Radar Utama (DRU) Unit III yang berlokasi di Jl. Alamsyah Ratu Prawira Negara KM. 12 Srengsem Panjang Lampung, Kamis (28/2)

Kegiatan tersebut, dihadiri Kadismatal Laksma TNI Ir. Bambang Nariyono, M.M., Kadisadal Laksma TNI Mulyadi, S.I.P, M.A.P, Kadislaikmatal Laksma TNI Hary Pratomo, Pusada Baranahan Kemhan yang diwakili oleh Kabid Matra Laut Kolonel Laut (T) Sriyanto, Danlanal Lampung Kolonel Laut (E) Ir. Fery Sidjaja dan Danbrigif 3 Marinir Kolonel (Mar) Hardimo.

Pelaksanaan Steel Cutting Kapal Angkut Tank-3 TNI Angkatan Laut ditandai dengan penekanan tombol sirine oleh Waaslog Kasal.

Dalam sambutannya Waaslog Kasal Laksma TNI Ir. Sayid Anwar mengatakan, dengan adanya pembangunan Kapal Angkut Tank TNI Angkatan Laut diharapkan dapat memajukan industri pertahanan dalam negeri sehingga dapat mengurangi ketergantungan dari luar negeri. Pelaksanaan pembangunan ini sebagai wujud pembinaan dari pemerintah dalam hal ini Kemhan/TNI, dengan harapan mitra kerja tetap memberikan dukungan teknis di luar masa jaminan sehingga kapal ini dapat berfungsi sesuai usia.

Melalui pelaksanaan Steel Cutting Kapal Angkut Tank-3 TNI Angkatan Laut tersebut, membuktikan bahwa mitra kerja berkomitmen dan siap menjadi lead integrator pembangunan produk Alat Utama Sistem Senjata (Alutsista) bidang kemaritiman.

Sumber: Dispenarmabar


Empat Kapal Perang Siap Dioperasikan Kembali



26 Februari 2013, Jakarta: Kepala Dinas Material Angkatan Laut (Kadismatal) Laksamana Pertama (Laksma) TNI Ir. Bambang Nariyono, M.M., menyerahkan empat Kapal Perang Republik Indonesia (KRI) usai melaksanakan perbaikan dan pemeliharaan menyeluruh tingkat depo (Hardepo) kepada Panglima Komando Armada RI Kawasan Barat (Pangarmabar) Laksamana Muda (Laksda) TNI Arief Rudianto, S.E., yang diwakili Asisten Logistik (Aslog) Pangarmabar Kolonel Laut (T) Dani Achdani, S.T., M.A.P., di Geladak KRI Teluk Sabang-544 yang sedang sandar di Dermaga TNI Angkatan Laut Pondok Dayung, Jakarta Utara, Selasa (26/2).

Keempat KRI jajaran Koarmabar yang telah melaksanakan perbaikan selama kurang lebih satu tahun tersebut siap bertugas kembali guna mendukung operasi laut di wilayah Koarmabar, yaitu KRI Imam Bonjol-383, KRI Sutanto-377, KRI Teluk Gilimanuk-531 dan KRI Teluk Sabang-544.

Kadismatal Laksma TNI Ir. Bambang Nariyono, M.M., dalam sambutannya mengatakan, kegiatan Hardepo merupakan salah satu tugas pokok yang diemban Dismatal selaku Badan Pelaksana Pusat (Balakpus) yang bertanggung jawab pada kesiapan platform KRI, dimana sesuai hierarki dalam sistem pemeliharaan terencana TNI Angkatan Laut, maka pemeliharaan tingkat depo adalah kewenangan dari Otorita Pemeliharaan Kapal (OPK) tingkat Mabesal.

Meskipun kewenangan pemeliharaan berada di OPK Mabesal, selama tahap penyiapan dan pengawasan, Dismatal akan selalu melibatkan Komando Utama (Kotama) terkait, sehingga hasil akhir yang dicapai merupakan hasil kerjasama antara Dismatal dengan Kotama termasuk Satharmat yang merupakan kepanjangan tangan dari Dismatal. Selesainya kegiatan Hardepo tersebut, merupakan hasil rangkaian yang erat antara Dismatal, pihak kapal dan satuan dengan pihak pelaksana kegiatan.

Pada kesempatan tersebut, Kadismatal menghimbau kepada seluruh pihak yang terkait pemeliharaan kapal terutama prajurit pengawak untuk senantiasa meningkatkan kewaspadaan pada segala macam bentuk bahaya yang mungkin terjadi di kapal. Penggunaan materiil atau peralatan yang tidak selayaknya digunakan di kapal semaksimal mungkin harus dihindari, karena beberapa penyebab kebakaran berasal dari peralatan domestik yang bukan standar di kapal.

Dengan diserahkannya keempat KRI tersebut, bukan berarti tugas pemeliharaan menjadi selesai. Serah terima KRI tersebut perlu dipandang sebagai tongkat estafet pemeliharaan kapal, dimana pemeliharaan merupakan kegiatan yang berkesinambungan sesuai dengan tingkatan dalam sistem pemeliharaan terencana.

Oleh karena itu, Kadismatal mengharapkan kepada Komandan KRI beserta seluruh anak buah agar pertahankan kondisi teknis yang telah dicapai melalui kegiatan Hardepo atau repowering; laksanakan drill-drill pos tempur sebelum kembali menjalankan operasi; laksanakan pengawasan secara ketat terhadap operasional dan kondisi seluruh pesawat atau peralatan dengan melaksanakan tertib pengisian jurnal.

Kadismatal selaku pembina teknis platform KRI menegaskan, keberhasilan kegiatan Hardepo yang diselenggarakan merupakan jerih payah dari apa yang sudah direncanakan, diawasi dan laksanakan bersama. Untuk itu harapkan dengan selesainya Hardepo tersebut dapat memelihara dan meningkatkan kondisi teknis terutama platform, sehingga keempat KRI tersebut mampu memikul beban tanggung jawab sebagai wahana para prajurit matra laut dalam menjaga kedaulatan negara di laut sampai beberapa tahun ke depan selama daur hidupnya, tambah Kadismatal.

Turut hadir pada kegiatan tersebut Komandan Satuan Kapal Eskorta Koarmabar (Dansatkorarmabar) Kolonel Laut (P) Denih Hendrata, Kadismatbekarmabar Kolonel Laut (T) Kasih Prihantoro, S.E., M.M., serta para Pejabat Teras Koarmabar.

Sumber: Dispenarmabar


Tiga Kapal Cepat Rudal Produksi Dalam Negeri Memuaskan



12 Februari 2013, Jakarta: Kapal Cepat Rudal (KCR) produksi dalam negeri yang berada di bawah jajaran Komando Armada RI Kawasan Barat (Koarmabar) berhasil mengikuti Latihan Geladi Tugas Tempur (Glagaspur) Tingkat III/L-3 dengan mencapai nilai kualitatif cukup memuaskan.

KCR tersebut yakni KRI Clurit (CLT-641), KRI Kujang (KJG-642), dan KRI Beladau (BLD-643). Ketiga KCR tersebut merupakan kapal pemukul reaksi cepat yang dalam pelaksanaan tugasnya mengutamakan unsur pendadakan, mengemban misi menyerang secara cepat, menghancurkan target sekali pukul dan menghindar dari serangan lawan dalam waktu singkat.

Ketiga kapal perang yang dilengkapi dengan Sensor Weapon Control (Sewaco) dan Close in Weapon System (CIWS) ini sehari-harinya berada di bawah pembinaan Satuan Kapal Cepat (Satkat) Koarmabar dengan Komandan Kolonel Laut (P) Dafit Santoso.

Glagaspur Tingkat III/L3 yang Kendali Operasional dibawah Komandan Satkat Koarmabar selaku Perwira Pelaksanan Latihan mulai dari tahap persiapan, tahap pelaksanaan dan tahap pengakhiran dapat terlaksana dengan baik, tertib dan lancar. Materi-materi yang dilaksanakan dalam serial latihan dapat dilaksanakan dengan lancar diantaranya manuver lapangan di Selat Riau dan Laut Natuna, AAROFEX serta GUNNEX di Laut Natuna.

Semua materi yang dilaksanakan telah dapat mencapai nilai kualitatif cukup memuaskan. Hasil lain yang tidak kalah pentingnya ialah tidak ada kerugian personel dan material yang berarti.

Dengan nilai kualitati cukup memuaskan hasil pencapaian KRI Clurit (CLT-641), KRI Kujang (KJG-642), dan KRI Beladau (BLD-643) sebagai kapal perang yang baru bergabung dengan TNI Angkatan Laut pada bulan Januari ini, Glagaspur Tingkat III/L3 unsur-unsur KRI di jajaran Koarmabar dinyatakan berhasil.

Sumber: Dispenarmabar


Usai Hardepo Empat KRI Koarmatim Siap Bertugas Kembali



12 Februari 2013, Surabaya: Usai melaksanakan perbaikan dan pemeliharaan menyeluruh (Hardepo) selama kurang lebih satu tahun, empat Kapal Perang Republik Indonesia (KRI) jajaran Koarmatim siap bertugas kembali mendukung operasi laut di wilayah Koarmatim. Kesiapan unsur laut tersebut ditandai dengan acara penyerahan empat kapal perang dari Dinas Material Angkatan Laut (Dismatal) oleh Kadismatal Laksamana Pertama TNI Ir. Bambang Nariyono, M.M., kepada Pangarmatim Laksamana Muda TNI Agung Pramono, S.H., M.Hum, bertempat di atas Geladak KRI Kerapu-812 yang sedang bersandar di Dermaga Koarmatim Ujung Surabaya, Selasa (12/02).

Ke empat kapal perang tersebut yaitu satu Kapal Cepat Torpedo (KCT) KRI Singa-651, dua kapal Buru Ranjau (BR) KRI Pulau Raas-722, KRI Pulau Rimau-724 dan satu kapal jenis Fast Patrol Boat (FPB) KRI Kerapu-812. Unsur laut tersebut telah mengalami perbaikan menyeluruh selama kurang lebih satu tahun mulai tahun 2012 sampai dengan tahun 2013. Adapun bagian kapal yang mengalami perbaikan dan modernisasi meliputi bangunan kapal (platform), sistem sensor dan persenjataan Sensor Weapon Control (SEWACO) serta permesinan. Selama proses Hardepo ke empat kapal tersebut dibawah tanggung jawab Dismatal selaku koordinator pelaksana perbaikan.

Sebelum acara penyerahan kapal perang tersebut, Kadismatal menyampaikan ceramah pembekalan kepada seluruh Perwira Korps Teknik, bertempat di Gedung Panti Tjahaya Armada (PTA) Koarmatim yang dihadiri oleh Asisten Logistik (Aslog) Pangarmatim Kolonel Laut (T) Edi Suhardono, S.E., selaku Wakil Ketua Pembina Korps Teknik wilayah timur. Dalam amanatnya yang dibacakan Aslog, Pangarmatim menyampaikan beberapa hal di antaranya, TNI AL merupakan salah satu matra yang Heavy Material karena memilki beragam Alat Utama Sitem Persenjataan (Alutsista) dengan teknologi tinggi. Oleh karenanya, penguasaan Alutsista ini sangat dipengaruhi oleh perkembangan ilmu dan teknologi serta tingkat kedisiplinan personel pengawaknya.

“Untuk itu, dalam pengawakan maupun pemeliharaan Alutsista TNI AL dibutuhkan kualitas personel dengan profesionalisme yang memadai, agar diperoleh optimalisasi dalam penggunaan maupun perawatannya. Salah satu parameter dalam mengukur tingkat keberhasilan tersebut adalah terwujudnya pelaksanaan tugas tanpa kecelakaan kerja (Zero Accident),” kata Pangarmatim.

Sumber: Dispenarmatim


Pangarmabar Tinjau Manuver Taktis di Laut Jawa


Jakarta, 11 Februari 2013: Panglima Komando Armada RI Kawasan Barat (Pangarmabar) Laksda TNI Arief Rudianto, S.E., secara langsung melihat pelaksanaan manuver lapangan enam unsur KRI Jajaran Koarmabar pada saat berlangsung manuver taktis di perairan Laut Jawa pada posisi daerah latihan 25 utara Karawang Jawa Barat, dari Anjungan KRI Silas Papare-386.

Latihan geladi Parsial dan Geladi Tugas tempur (Glagaspur) tingkat III yang digelar oleh Komando Armada RI Kawasan Barat ini dilaksanakan sebagai salah satu tindak lanjut kebijakan dari komando atas khususnya kebijakan di bidang latihan yang disampaikan pemimpin pada saat Rapim TNI AL, pekan lalu.

Pada Rapat staf dan Komando Koarmabar, Pangarmabar menyampaikan arahan kebijakan pimpinan di bidang latihan antara lain disampaikan kebijakan latihan yaitu meningkatkan kualitas pelaksanaan latihan pada tiap tingkatan, merencanakan pelaksananaan latihan secara terintegrasi dan komprehensif agar dapat mendukung pelaksanaan latihan gabungan TNI tingkat Divisi pada tahun 2013.

Sejalan dengan hal tersebut Pangarmabar Laksda TNI Arief Rudianto, S.E., pada saat pelaksanaan rapat staf dan Komando (Rasko) di Koarmabar memberikan penekanan di bidang latihan dan Operasi kepada para pejabat Koarmabar. Penekanan tersebut antara lain siapkan rencana dan latihan dengan baik mandiri maupun gabungan secara bertingkat dan berlanjut sehingga prajurit memahami fungsi serta tugasnya secara proporsional. Lebih lanjut ditegaskan laksanakan tugas secara professional dan terukur sesuai dengan koridor hukum untuk tercapainya hasil operasional secara optimal.

Hal tersebut ditekankan kembali pada saat pembukaan Latihan Parsial dan Glagaspur Tingkat III, Pangarmabar Laksda TNI Arief Rudianto, S.E., menekankan agar kegiatan latihan dilaksanakan dengan sebaik baiknya dan berpedoman pada standart operasi prosedur. Selain itu perhatikan dan utamakan keselamatan personel berikut material yang digunakan sehingga program Zero Accident dapat tercapai.

Untuk melihat kemampuan dan perkembangan para prajurit di lapangan, Pangarmabar Laksda TNI Arief Rudianto, S.E., melihat dan memantau secara langsung jalannya latihan di anjungan KRI Silas Papare-386 guna mengetahui kesiapan dan kemampuan alut sista serta tingkat profesionalisme prajurit yang mengawaki unsur yang terlibat latihan Geladi Parsial.

Dalam kesempatan tersebut, Pangarmabar juga memberikan arahan kepada Komadan Satfib Koarmabar Kolonel laut (P) Alek Syahril yang bertindak sebagai Komandan Satuan Tugas Geladi parsial beserta staf latihan dalam rangka meningkatkan kemampuan dan profesionalisme prajurit secara proporsional dalam mengawaki unsur KRI.

Kegiatan peninjauan Pangarmabar tesebut, diawali dari pelabuhan Tanjung Priok Jakarta dengan pelayaran ditempuh sekitar 1 jam dengan mennggunakan KRI Kobra-867 berangkat menuju daerah latihan di Laut Jawa.

Selama berada di anjungan kapal jenis patroli cepat KRI Kobra-867, Pangarmabar Laksda TNI Arief Rudianto, S.E., secara langsung melihat kondisi dan situasi kegiatan di sekitar kawasan pelabuhan Tanjung Priok Jakarta dan kegiatan–kegiatan kapal niaga dan pengguna laut lainnya yang sedang lego jangkar di sekitar alur masuk pelabuhan menunggu penjadwalan kegiatan bongkar-muat dalam mendukung kegiatan perekonomian.

Dalam meninjau latihan Gelada Parsial, Pangarmabar Laksda TNI Arief Rudianto, S.E., didampingi Komandan Kolat Koarmabar Kolonel laut (P) Yudho Margono dan Komandan Satgas Geladi parsial Kolonel laut (P) Alek Syahrir on board di Anjungan KRI Silas Papare-386 guna melihat dan mengamati para personel khsusnya di KRI Silas Papare-386 dan sekaligus memantau pelaksanaan manuver taktis lima unsur KRI jenis parchim, kapal cepat FB-57 dan KRI Jenis Frocsh yang terlibat pelaksanaan serial latihan.

Pada saat naik di KRI, lima unsur KRI yang terlibat Latihan Geladi Parsial membentuk formasi melintas satu persatu dimulai, melaksanakan penghormatan kepada Pangarmabar Laksda TNI Arief Rudianto, S.E., diawali dengan KRI produksi dalam negeri jenis Fast patrol Boat (FPB )-57 KRI Barakuda-633, KRI Todak-631 selanjutnya di ikuti dua KRI jenis perusak kawal tipe parchim KRI Cut Nyak Dien-375 dan KRI Tjiptadi-381 dan terakhir jenis angkut pasukan tipe Frocsh KRI Celukan Bawang-532.

Selama berada di Anjungan KRI Silas Papare-386, Pangarmabar Laksda TNI Arief Rudianto, S.E., antara lain memantau pelaksaan latihan mulai dari penggunaan jaring komunikasi, kemampuan penguasaan standar komando KRI, penempatan pos-pos tempur, pos kendali utama maupun pemahaman keselamatan kapal serta pelaksanaan formasi 6 unsur KRI jajaran Koarmabar.

Pada pelaksanaan latihan serial peran anti bahaya kapal permukaan yang disimulasikan dilaksanakan penembakan meriam di KRI, para personel telah menempati pos-pos tempur dalam rangka pelaksanaan penembakan dengan sasaran benda terapung sebagai sasaran penembakan pada jarak kurang lebih 2000 yard.

Namun dengan pertimbangan keamanan bahwa dilokasi daerah latihan dengan radius yang tidak terlalu jauh dari lokasi daerah latihan masih terdapat kapal-kapal niaga yang sedang melintas dan para pengguna laut lainnya, selanjutnya pelaksanaan latihan penembakan dengan sasaran terapung hanya berlangsung beberapa saat dan selanjutnya dilaksanakan serial latihan dalam bentuk formasi sejajar dengan kecepatan sama.

Sedangkan pada saat latihan pembekalan di laut, personel yang terlibat dalam serial latihan RAS atau dikenal dengan pembekalan di laut dilaksnakan oleh KRI Todak-631 dan KRI Silas Papare-386, dengan sigap dan cekatan para personel menempati pos masin-masing guna melaksanakan peran pembekalan di laut. Dan selanjutnya unsur KRI yang terlibat latihan geladi parsial membentuk formasi-formasi guna uji coba kesiapan alutsista dan kemampuan personel.

Sumber: Dispenarmabar


KRI Diponegoro-365 Dikirim Kembali ke Libanon


11 Februari 2013, Surabaya: Komando Armada RI Kawasan Timur (Koarmatim) kembali dipercaya untuk mengirimkan salah satu unsurnya yaitu KRI Diponegoro-365 dalam misi perdamaian dunia di Lebanon yang tergabung dalam Satgas Maritim TNI Konga XXVIII-E/UNIFIL 2013. Upacara pembukaan penyiapan Satgas dilaksanakan tadi pagi (11/2) dengan Inspektur Upacara Wakil Asisten Operasi (Waasops) Panglima TNI Laksamana Pertama TNI Widodo di gedung Pusat Latihan Kapal Perang (Puslat Kaprang) Kolatarmatim, Ujung, Surabaya.

KRI Diponegoro-365 dari Satuan Kapal Eskorta Koarmatim untuk kedua kalinya dipercaya mengemban misi mulia ini setelah berhasil dalam misi perdamaian yang sama pada tahun 2009 dalam Satgas Maritim TNI Konga XXVIII-A/UNIFIL. Kemudian dilanjutkan oleh KRI Frans Kaisiepo-368 pada tahun 2010, KRI Sultan Iskandar Muda-367 pada tahun 2011 dan tahun 2012 adalah KRI Sultan Hasanuddin-366 dan baru tiba di tanah air pada bulan Januari yang lalu. Peserta penyiapan Satgas sebanyak 100 prajurit termasuk personel pendukung dari Puspenerbal Juanda (kru helikopter), perwira kesehatan (dokter), perwira Kopaska, perwira intelejen dan perwira penerangan.

Asisten Operasi Panglima TNI dalam amanatnya yang dibacakan Waasops Panglima TNI menyampaikan bahwa penugasan ini merupakan implementasi dari cita-cita bangsa Indonesia untuk ikut serta dalam perdamaian dunia sesuai pembukaan UUD 1945 alinea ke-4 dan telah mendapat dukungan penuh dari lembaga legislatif, Kementerian Luar Negeri dan institusi lainnya yang terkait. Untuk dapat melaksanakan misi perdamaian dengan baik, kata Asops Panglima TNI, perlu dilakukan latihan penyiapan agar dapat memenuhi standar yang telah ditetapkan oleh PBB.

Sedangkan materi penyiapan meliputi materi umum berupa Core Predeployment Training Materials (CPTM), pemahaman tentang Minimum Use of Force atau penggunan senjata seminimum mungkin sesuai dengan Rules of Engagement (ROE) dan Standard Operating Procedure (SOP) ditambah beberapa materi lain yang relevan guna mendukung kelancaran pelaksanaan tugas, disamping tetap menjaga kesehatan dan kesamaptaan jasmani sehingga tetap prima dalam masa penyiapan maupun saat bertugas di daerah operasi nanti.

Untuk dapat bergabung dalam Satgas Maritim TNI Konga XXVIII-E/UNIFIL para personel Satgas telah lulus dari berbagai materi test yang telah disiapkan oleh Panitia Penyiapan Satgas. Materi test tersebut antara lain test kesapmataan jasmani, test kesehatan umum, kesehatan gigi, kesehatan jiwa, keterampilan komputer dan test bahasa Inggris.

Sumber: Dispenarmatim


Pangarmabar Tinjau Lokasi Pembangunan Batalyon 10 Marinr


31 Januari 2013, Jakarta: Panglima Komando Armada RI Kawasan Barat (Pangaramabar) Laksamana Muda (Laksda) TNI Arief Rudianto, melakukan peninjauan ke lahan yang rencanannya akan dialokasikan untuk pembangunan Batalyon 10 Marinir, di Setokok Batam, baru-baru ini.

Pangarmabar pada kesempatan tersebut didampingi Komandan Pangkalan Utama Angkatan Laut (Lantamal) IV Tanjung Pinang Laksamana Pertama (Laksma) TNI Agus Heryana, Komandan Gugus Keamanan Laut Koarmabar Laksma TNI Arusukmono Indra Sucahyo, Kepala Dinas Fasilitas Pangkalan Angkatan Laut (Kadisfaslanal) Laksma TNI Lefrand Tuelah.

Kunjungan Pangarmabar Laksda TNI Arief Rudianto, ke Setokok tersebut dilaksanakan dalam rangkaian kunjungan kerja ke wilayah pangkalan-pangkalan Angkatan Laut serta pos-pos Angkatan Laut yang berada di perbatasan atau pulau-pulau terluar.

Beberapa kegiatan Pangarmabar saat melakukan kunjungan kerja ke Tanjung Pinang diantaranya melaksanakan peninjauan Fasilitas Pemeliharaan dan Perbaikan (Fasharkan) Mentigi, Tanjung Uban dan meresmikan Gedung Hanggar Fasharkan Mentigi. Selain melakukan peninjauan Pangarmabar juga memberikan pengarahan kepada seluruh prajurit dan Pegawai negeri Sipil (PNS) jajaran Koarmabar Lantamal IV Tanjung Pinang yang berada di Fasharkan Mentigi, Satuan Kapal Cepat Koarmabar (Satkatarmabar), Satuan Kapal Ranjau Koarmabar (Satranarmabar) dan unsur KRI yang berada di Tanjung Uban.

Sumber: Dispenarmabar


Pulau Gundul Dibombardir Kapal Perang


25 Januari 2013, Surabaya: Kapal Perang Republik Indonesia (KRI) jajaran Koarmatim, “membombardir” Pulau Gundul yang berada di sebelah utara Semarang, Selasa (22/01). Pulau tak berpenghuni itu menjadi sasaran tembak meriam-meriam kapal perang, yang sedang melakukan manuver lapangan gladi tempur laut diwilayah itu. Pulau Gundul merupakan daerah latihan TNI AL, berada di sekitar perairan Laut Jawa.

Dentuman meriam dari kapal perang secara bertubi-tubi, menghujam Pulau tak berpenghuni itu. Kompetisi artileri menggunakan senjata kapal perang, meriam kaliber 76 mm, dengan jarak tembak dari kapal menuju sasaran Pulau Gundul sejauh kurang lebih 5,1 Nautical mile.

Unsur kapal perang yang terlibat adalah, KRI Slamet Riyadi 352, KRI Oswald Siahaan 354, KRI Abdul Halim Perdana Kusuma 355, KRI Sultan Hasannudin 366, KRI Sultan Iskandar Muda 367, KRI Fans Kaisiepo 368, KRI Lambung Mangkurat 374, KRI Hasan Basri 382, KRI Mandau 621, KRI Badik 623, KRI Keris 624,KRI Hiu 804 dan KRI Layang 805 dengan melibatkan 1425 personel serta didukung oleh dua Pesawat Udara (Pesud) jenis Cassa serta helikopter BO-105.

Penembakan senjata artileri meriam kapal perang tersebut, merupakan tahapan puncak manuver lapangan Latihan Parsial I/2013. Gladi tempur laut ini dipimpin langsung oleh Komandan Satuan Kapal Eskorta (Satkor) Koarmatim Kolonel Laut (P) Bambang Supriyadi, serta dipantau tim penilai dari Komando Latihan (Kolat) Koarmatim.


Kompetisi artileri berlanggsung pada hari Selasa (22/01), selama kurang lebih setengah hari mulai pukul 08.00 WIB sampai dengan 13.00 WIB. Selanjutnya seluruh unsur KRI, melakukan persiapan kembali menuju pangkalan Surabaya. Dalam perjalanan Lintas Laut (Linla) tersebut, kapal-kapal perang itu tetap membentuk formasi tempur sambil melakukan latihan peperangan laut, siang dan malam hari.

Adapun kegiatan serial Latihan Parsial I/2013 ini, di antaranya adalah latihan melewati medan ranjau, penembakan malam dengan senjata anti serangan udara atau Anti Air Rapid Open Fire Exercise (Aarofex) menggunakan meriam kaliber 20 mm, menembak malam Night Gunery Exercise (GUNEX) menggunakan meriam Kaliber 76 mm.

Tujuan dilaksanakan latihan ini adalah untuk mempertahankan dan meningkatkan kemampuan unsur operasional Koarmatim, dan memberikan rasa kebanggaan serta semangat bersaing secara positif. Keberhasilan operasional Latihan Parsial I/2013 ini, sebagai salah satu tolak ukur kesiapan operasional prajurit dan persenjataan kapal perang yang berada di jajaran Koarmatim.

Sumber: Dispenarmatim


Armabar Fokus Keamanan di Laut China Selatan

Laksamana Muda (Laksda ) TNI Arief Rudianto menjabat Panglima Komando Armada RI Kawasan Barat (Pangarmabar) menggantikan Laksda TNI Sadiman, S.E., dalam upacara serah terima jabatan yang dipimpin langsung oleh Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana Madya (Laksdya) TNI Dr. Marsetio, M.M., di Gedung Yos Sudarso , Mako Koarmabar, Jalan Gunung Sahari Raya, Jakarta Pusat, Selasa (22/1).(Foto: Dispenarmabar)

24 Januari 2013, Jakarta: Keamanan di Laut China Selatan, Selat Malaka dan Laut Natuna masih menjadi fokus perhatian Komando Armada RI Kawasan Barat (Armabar).

“Ketiga wilayah tersebut sangat rawan. Apalagi Selat Malaka tergolong wilayah laut tersibuk di dunia. Harus menjadi fokus penjagaan Armabar,” papar Kepala Staf TNI Angkatan Laut (Kasal) Laksamana Madya Marsetio, usai serah terima jabatan Panglima Armabar, dari Laksamana Muda TNI Sadiman kepada Laksamana Muda TNI Arief Rudianto, di Jakarta, Selasa (22/1).

Khusus penjagaan Laut Natuna, kata Kasal, TNI AL memiliki panggalan terdepan yang dijaga Landasan TNI AL Ranai. “Jaraknya sangat dekat dengan Natuna, hanya 126 knot/mil. Makanya kekuatan Armabar diintensifkan di sana,” ujar Marsetio.

Kasal berharap Panglima Armabar baru mampu menekan eskalasi ancaman yang ada di wilayah barat. “Pelanggaran hukum di wilayah laut terutama di wilayah perbatasan sangat rawan terjadi, sehingga peran Koarmabar sangat penting menjaga keamanan laut,” ujarnya.

Di wilayah barat, Indonesia memiliki banyak perbatasan dengan negara lain, seperti India, Thailand, Malaysia, Singapura, dan Vietnam. Koarmabar merupakan komando utama pembinaan dan operasional dalam menyiapkan Sistem Senjata Armada Terpadu (SSAT).

Panglima Armabar bertanggungjawab kepada Kasal, sebagai komando utama operasional dalam penggunaan kekuatan, Pangarmabar juga bertanggungjawab kepada Panglima TNI.

Tugas pokok Koarmabar adalah menyelenggarakan operasi intelijen maritim guna mendukung pelaksanaan operasi laut, menyelenggarakan operasi tempur laut dalam rangka Operasi Militer Perang (OPM), baik operasi gabungan maupun mandiri serta menyelenggarakan Operasi Militer Selain Perang (OMPS) baik berupa operasi laut sehari-hari maupun operasi keamanan laut di wilayah Koarmabar sesuai dengan kebijakan Panglima TNI.

Pada tingkat komando pelaksana operasi, Komando Armabar membawahkan dua komando pelaksana operasi yang memiliki tugas pengendalian laut yurisdiksi nasional kawasan barat, yaitu Gugus Tempur Laut Komando Armabar (Guspurlabar) dan Gugus Keamanan Laut Komando Armabar (Guskamlabar).

Kawasan yang menjadi tanggung jawab Komando Armabar meliputi 2 juta kilometer persegi wilayah pantai dan 1,3 juta kilometer persegi perairan yurisdiksi nasional. Salah satu jalur pelayaran terpadat di dunia dari Selat Malaka sampai Laut Cina Selatan juga merupakan wilayah tanggung jawab Armabar.

Sumber: Dispenarmabar


Armada RI Kawasan Tengah Diperkirakan Terealisasi 2014

KRI Pandrong-801 kapal jenis patroli produksi PT PAL. (Foto: Dispenal)

24 Januari 2013, Jakarta: Keberadaan Armada RI Kawasan Tengah diperkirakan selesai pada 2014. Untuk membangun satu armada, diperlukan waktu sedikitnya dua hingga tiga tahun. Pembentukan infrastruktur paling memakan waktu. "Sangat mungkin terealisasi pada 2014 mendatang," kata Kepala Dinas Penerangan TNI AL (Kadispenal), Laksamana Pertama Untung Suropati, di Jakarta, kemarin. Saat ini, TNI AL belum mau membocorkan secara detail pembangunan tiga armada.

Untung mengatakan pihaknya tinggal menunggu persetujuan Presiden terkait pengesahan revisi Peraturan Presiden Nomor 10 Tahun 2010 tentang Susunan Organisasi TNI. "Begitu Perpres disetujui, kami akan langsung lakukan pembangunan infrastruktur armada," ujar dia.

Belum disahkannya Perpres dinilai karena ada sebagian usulan yang masih ditunda. Namun, Untung memastikan sebagian besar usulan sudah disetujui oleh Panglima TNI, Laksamana Agus Suhartono. Meski demikian, Untung menjelaskan Markas Komando Armada RI Kawasan Tengah akan ditempatkan di Surabaya yang saat ini merupakan markas Komando Armada RI Kawasan Timur (Armatim). "Rencananya, Armatim akan ditempatkan di Sorong, Papua Barat," ujar dia.

Pusat Kohanla

Untung menjelaskan di Surabaya pula markas Komando Pertahanan Laut (Kohanla) akan ditempatkan. Keberadaan tiga armada memungkinkan dibentuknya Kohanla yang akan membawahkan tiga armada itu. Sedangkan Komando Armada RI Kawasan Barat untuk sementara akan tetap ditempatkan di Jakarta.

"Kami merencanakan markas besar akan dipusatkan di tengah, di Surabaya," ujar Untung. Sebelumnya, Kepala Staf TNI AL (Kasal), Laksamana Madya Marsetio, menyatakan bahwa penambahan armada masih menunggu persetujuan Presiden.

Sumber: Koran Jakarta


Koarmatim Laksanakan Kompetisi Artileri Kapal Perang

KRI Keris (624) kapal perang jenis Kapal Cepat Rudal produksi Korea Selatan. (Foto: Dispenarmatim)

22 Januari 2013, Surabaya: Kapal Perang Republik Indonesia (KRI) jajaran Koarmatim akan melaksanakan kompetisi artileri di sekitar perairan Laut Jawa. Sebanyak empat belas KRI yang terlibat dalam gladi tempur laut itu, berangkat dari Dermaga Koarmatim Ujung, Surabaya, Senin, (21/01). Rencananya gladi tempur laut dilaksanakan selama kurang lebih tiga hari, mulai tanggal 21 sampai dengan 23 Januari 2013. Medan latihan meliputi, Alur Pelayaran Barat Surabaya (APBS) , daerah latihan TNI AL yang berada Laut Jawa.

Unsur-unsur yang terlibat dalam kompetisi penembakan senjata artileri tersebut di antaranya delapan KRI dari jajaran Satuan Kapal Eskorta (Satkor) Koarmatim, tiga KRI jenis Kapal Cepat Rudal (KCR), satu KRI jenis Landing Platform Dock (LPD), dua kapal patroli jenis Fast Patrol Boat (FPB), dua Pesawat Udara (Pesud) Cassa dan dua Helikopter jenis Bolcow (BO-105).

Tujuan latihan ini adalah untuk mempertahankan dan meningkatkan kemampuan unsur operasional Koarmatim, mengukur hasil pembinaan latihan dan memberikan rasa kebanggaan serta semangat bersaing secara positif. Sedangkan sasaran latihan meliputi dua aspek yakni pertama, aspek operasional agar terciptanya kemampuan dalam mengaplikasikan dan menerapkan prosedur penembakan senjata artileri dalam rangka mewujudkan kesiapsiagaan satuan operasional TNI AL. Yang kedua adalah aspek psikologis, untuk memberikan rasa bangga serta semangat bersaing secara positif antar unsur-unsur peserta latihan serta meningkatkan naluri tempur prajurit TNI AL.

Materi yang dikembangkan meliputi kemampuan mengaplikasikan dan mengembangkan doktrin, taktik serta prosedur dalam operasi laut sesuai referensi yang telah ditetapkan, mengasah kemampuan dasar kepelautan bagi seluruh prajurit secara professional, sebagai aplikasi operasi tempur laut dalam kegiatan peperangan anti kapal permukaan, anti kapal selam, dan pertahanan udara dan melatih kerja sama taktis dan teknis antar unsur TNI AL dalam melaksanakan latihan.

Sumber: Dispenarmatim


Pangkalan Kapal Selam di Palu Diresmikan 2014

Pangarmatim, Laksda TNI Agung Pramono bersiap melarung karangan bunga kelaut di Alur Pelayaran Timur Surabaya (APTS) Surabaya, Jatim, Selasa (15/1). Tabur bunga yang berlangsung di atas KRI Surabaya-591 dalam rangka peringatan Hari Dharma Samudera tahun 2013 tersebut bertujuan untuk mengingat jasa para pahlawan yang gugur di laut. (Foto: ANTARA/M Risyal Hidayat/pd/13)

15 Januari 2013, Jakarta: TNI Angkatan Laut (AL) membangun pangkalan kapal selam di Teluk Palu, Sulawesi Tengah. Ditargetkan tahun depan pangkalan itu sudah bisa diresmikan pengoperasiannya.

Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Madya TNI Marsetio mengatakan, pembangunan pangkalan itu dilakukan lantaran dalam beberapa tahun ke depan, TNI AL segera diperkuat tiga unit kapal selam baru yang dibeli dari Korea Selatan. Sekarang ini TNI AL baru memiliki dua unit kapal selam.

Proses pembangunan, kata dia, sudah mencapai 90 persen. "Diharapkan 2014 sudah bisa diresmikan dan segera digunakan," ujarnya usai Peresmian Replika KRI Matjan Tutul-602 di Museum Satria Mandala Pusat Sejarah TNI, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Selasa (15/1/2013).

Kepala Dinas Penerangan TNI AL (Kadispenal) Laksamana Pertama TNI Untung Suropati menambahkan, pembangunan pangkalan kapal selam tersebut sudah dalam tahap penyelesaian. Misalnya, pembangunan pagar keliling dan pengecatan, serta meubelair..

Infrasktruktur utama pangkalan itu, yakni dermaga, shelter, alat tambat, radio komunikasi serta fasilitas perbaikan sudah siap. Menurut dia, penggunaan pangkalan tak menunggu kedatangan kapal selam dari Korea Selatan, pasalnya TNI AL sudah memiliki dua unit kapal selam, Cakra dan Nanggala..

"Kita sudah melakukan uji coba kesiapan pangkalan. Kita cukup sering kesana untuk bersandar," ujarnya..

Untung melanjutkan, pemilihan Teluk Palu sebagai lokasi pembangunan pangkalan karena teluk ini cukup strategis dilihat dari kepentingan geopolitik dan geostrategis. Lokasi ini dekat dengan wilayah Malaysia, terutama wilayah sengketa di Ambalat.

Sumber: SINDO


KRI Beladau-643 Melakukan Sea Trial

(Foto: Dispen Lantamal IV)

15 Januari 2013, Batam: Logistik (Aslog) Kasal Laksamana Muda TNI Sru Handayanto didampingi Komandan Lantamal IV Laksamana Pertama TNI Agus Heryana beserta sejumlah petinggi TNI AL melakukan sea trial KRI Beladau-643 kapal perang jenis Kapal Cepat Rudal (KCR) 40 melakukan sea trial di perairan Barelang, Batam, Kepulauan Riau (11/01).

KRI Beladau kapal ketiga dari jenis KCR-40 yang dipesan Kementerian Pertahanan dari PT. Palindo Marine Shipyard, Batam. Kapal pertama KRI Clurit-641 dan kedua KRI Kujang-642.

Kapal KCR-40 KRI Beladau-643 tersebut rencananya akan diresmikan oleh Menteri Pertahanan (Menhan) RI Ir. Purnomo Yusgiantoro MSc., MA., Ph.D. pada tanggal 25 Januari 2013 di Batam.

Kapal pertama KCR-40 KRI Clurit-641. (Foto: Berita HanKam)

Badan kapal dibuat dari high tensile steel dan bagian atas Alumunium Marine grade, panjang 44 meter dan lebar 7,40 meter. Kapal dapat dipacu maksimum 27 knot dan kecepatan jelajah 24 knot, mesin 3x MAN V12 masing-masing berkekuatan 1800 HP 2300 RPM.

Kapal dilengkapi akomodasi untuk 6 perwira, 28 pelaut dan 8 pasukan khusus. Kapasitas bahan bakar kapal 50,000 liter dan air bersih 15,000 liter. KCR-40 dipersenjatai rudal C-705 dan meriam 30 mm enam laras berfungsi sebagai Close in Weapon System (CIWS).

Sumber: Dispen Lantamal IV


KRI Sultan Hasanuddin-366 Segera Merapat di Koarmatim

(Foto: Lantamal I)

13 Januari 2013, Surabaya: Setelah Delapan bulan sukses mengemban tugas United Nations Security Council Resolution (UNSCR) Nomor 1701, KRI Sultan Hasanuddin-366, besok Senin (14/1/2013) di rencanakan tiba dan merapat di Dermaga Madura, Ujung Koarmatim.

Kadispen Armatim Letkol Laut (KH) Yayan Sugiana mengatakan kedatangan KRI Sultan Hasanuddin-366 akan disambut dengan upacara militer yang akan dipimpin langsung Pangarmatim Laksda TNI Agung Pramono.

Sebelumnya, KRI Hasanudin ini bertolak dari pelabuhan Beirut Lebanon, masa penugasan KRI Sultan Hasanuddin-366 dalam MTF/UNIFIL secara resmi berakhir (Out of Change Operations) pada tanggal 9 Desember 2012 pukul 15.00 waktu setempat, ditandai dengan penurunan bendera PBB dan penghapusan tulisan UN pada lambung kapal.

KRI Hasanuddin bergabung dengan Maritime Task Force/United Nations Interim Force In Lebanon (MTF/UNIFIL) di bawah bendera PBB sejak bulan Juni silam.

Sumber: Surya


Helikopter TNI AL Latihan Manuver Tempur dan Patroli

9 Januari 2013, Surabaya: Sebanyak empat heli Bell 412 milik Skuadron Udara 400 Wing Udara-1 Pusat Penerbangan TNI AL (Puspenerbal), melakukan latihan manuver di atas jembatan Suramadu sisi Surabaya dan Madura, Rabu (9/1). Puspenerbal melakukan latihan rutin manuver tempur dan patroli pada seluruh alat utama sistem persenjataan (alutsista) udara, guna menjaga kedaulatan NKRI. (Foto: ANTARA/Eric Ireng/ss/ama/13)


Pembentukan Kohanla Menunggu Persetujuan Presiden

Panglima TNI, Laksamana TNI Agus Suhartono (tengah) melakukan salam komando dengan Laksamana TNI Soeparno (kiri) dan Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Madya TNI Marsetio (kanan) yang baru disela-sela upacara sertijab di Dermaga Koarmatim, Ujung, Surabaya, Jatim, Kamis (27/12). Laksamana Madya TNI Marsetio menggantikan pejabat lama, Laksamana TNI Soeparno. (Foto: ANTARA/M Risyal Hidayat/Koz/mes/12)

4 Januari 2013, Jakarta: Pembentukan Komando Pertahanan Laut (Kohanla) dipastikan akan terwujud, menyusul adanya persetujuan di tingkat Markas Besar TNI dan menunggu proses persetujuan Presiden.

Kepala Dinas Penerangan Angkatan Laut Laksamana Pertama TNI (P) Untung Suropati menjelaskan, Kohanla nantinya akan membawahi tiga armada yaitu Armada Barat, Armada Tengah dan Armada Timur.

"Dalam forum apel komandan satuan kemarin sudah dipaparkan perubahan mendasar adalah validasi organisasi TNI AL. Ini sudah disetujui di tingkat Mabes TNI, mulai dari pengembangan armada, marinir, perkembangan atau penambahan organisasi baru," kata Kadispenal Untung Suropati di Jakarta, Jumat (4/1).

Pengembangan postur ini menurut Untung akan diikuti oleh strata kepangkatan. Untuk Kohanla akan dipimpin oleh pangkat Laksamana Madya (Laksdya). Sedangkan masing-masing armada dipimpin oleh Laksamana Muda.

Pemekaran postur yang juga disetujui oleh Mabes TNI yaitu pembangunan satu pasukan marinir (Pasmar) yaitu Pasmar III di Sorong. Meski mengaku belum dikaji lebih jauh, namun jumlah personel Pasmar di Sorong, menurut Kadispenal idealnya setara dengan satu divisi di angkatan darat.

Hingga kini pembangunan infrastrutur untuk Armada Tengah diakui Untung, belum dilakukan karena menunggu keputusan presiden terkait revisi Peraturan Presiden Nomor 10/2010 tentang Organisasi TNI. "Dari Mabes TNI yang sudah menyetujui akan diajukan ke pemerintah. Pembangunan menunggu persetujuan presiden terlebih dahulu," pungkasnya.

Sumber: Info Publik


KASAL: TNI AL Perbanyak Latihan Bersama dengan Luar Negeri

Pasukan AL Rusia dan Kopaska latihan bersama di Surabaya. (Foto: Kedubes Federasi Rusia)

3 Januari 2013, Jakarta: Kepala Staf TNI AL (Kasal), Laksamana Madya TNI Marsetio, mengatakan TNI AL harus terbuka terhadap pandangan global dan memperbanyak latihan-latihan bersama dengan instansi terkait dari luar negeri. Apa yang sudah dilakukan selama ini akan diteruskan dan dipertajam.

"Program Kasal sebelumnya, yakni Laksamana Soeparno, akan saya teruskan dan pertajam. Selama menjadi Kasal, cita-cita saya adalah kita harus semakin membuka diri di era globalisasi sekarang ini," kata Marsetio saat acara pisah-sambut Kasal di Mabes TNI AL, Jakarta, Rabu (2/1).

Menurut dia, Laksamana Soeparno telah melakukan itu dengan baik. "Pak Soeparno telah mengawali latihan-latihan bersama dengan sejumlah angkatan laut negara lain. Saya akan mempertajam kebijakan itu," kata lulusan terbaik Akademi Angkatan Laut pada 1981 itu.

Dalam pidatonya, Marsetio mengaku mendapatkan banyak bimbingan dari seniornya, Soeparno, yang akan pensiun pada 1 Oktober mendatang. "Saya berharap, sambil menunggu masa pensiun, Bapak Soeparno tetap menjadi bagian dari TNI AL," kata dia.

Marsetio sudah mengenal Soeparno sejak masih di Akademi Angkatan Laut. Soeparno yang merupakan lulusan tahun 1978 kerap selalu membawa Marsetio membantu pekerjaanya di sejumlah satuan. "Beberapa kali saya menjadi staf beliau," ujar dia.

Saat menjadi Komandan Gugus Tempur Laut di Armada Timur, Marsetio menjadi bawahan Soeparno, termasuk saat ramai persoalan Ambalat pada 2005, hingga saat Soeparno menjadi Komandan Armada Bagian Barat. Terakhir, ketika Soeparno menjadi Kasal, Marsetio dipercaya menjadi wakasalnya. "Beliau selalu membimbing saya hingga sekarang saya menjadi Kasal," kata dia.

Lebih jauh, Marsetio menyatakan akan menyesuaikan program kerja TNI AL sesuai perkembangan dinamika. "Terutama disesuaikan dengan kebijakan pemimpin dan alokasi anggaran yang ada," kata dia.

Peremajaan Alutsista

Namun, yang jelas, Marsetio menyatakan dirinya akan tetap mengacu pada pencapaian kekuatan pokok minimal (minimun essential forces/MEF). "Tak hanya dalam hal peremajaan alat utama sistem senjata/alutsista, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan prajurit," jelasnya.

Prioritas perwujudan MEF, antara lain meningkatkan kemampuan mobilitas TNI AL, meningkatkan kemampuan satuan tempur (stiking force) dan menyiapkan pasukan siaga (standby force) untuk penanganan bencana alam, tugas-tugas perdamaian dunia dan keadaan darurat lainnya.

Marsetio juga menjelaskan pembangunan MEF diimplementasikan dalam tiga rencana strategis (renstra) hingga tahun 2024 yang diproyeksikan pada pencapaian MEF yang mencakup organisasi, personel, dan alutsista sesuai dengan alokasi anggaran pertahanan.

Menurut dia, percepatan pencapaian MEF di bidang alutsista diprioritaskan pada penggantian alutsista yang kondisinya tidak layak pakai serta pemenuhan kebutuhan untuk pelaksanaan tugas-tugas mendesak.

Sejumlah persoalan yang mungkin akan dihadapi pada 2013, antara lain perkembangan situasi kawasan regional tentang Laut China Selatan, penyelesaian wilayah perbatasan yang berpotensi konflik, dan situasi kondisi nasional terkait perkembangan politik, ekonomi, sosial budaya, dan pertahanan keamanan. "Perlu penyesuaian untuk menjawab kecenderungan yang terjadi," katanya.

Dalam sambutan perpisahannya, Soeparno berharap Marsetio semakin mengibarkan TNI AL. Dia bahkan meminta Marsetio membawa TNI AL maju secara signifikan melalui alunan lagu. "Saya yakin dan percaya TNI AL akan lebih maju. Harapan saya, seluruh jajaran TNI AL ikut bekerja kerja keras mewujudkan cita-cita membangun postur TNI AL yang ideal," jelas dia.

Secara terpisah, Kepala Staf TNI AU (Kasau), Marsekal Madya Ida Bagus Putu Dunia, saat apel khusus menyambut 2013 di di Mabesau,mengatakan sebagai salah satu komponen pertahanan negara, TNI AU terus tumbuh berkembang seiring dengan dinamika pembangunan nasional dan perkembangan lingkungan strategis.

"Kekuatan Angkatan Udara merupakan salah satu komponen kekuatan yang dapat menjadi bargaining power dalam upaya menyelesaikan konflik antarnegara," kata Kasau.

Kebijakan pengembangan kekuatan TNI AU tetap mengacu pada rencana pengembangan yang telah dituangkan dalam renstra TNI AU 2010-2014 dengan tetap memperhatikan dinamika di lapangan. "Kemungkinan ancaman dan kontinjensi dapat muncul akibat situasi politik dan keamanan internasional yang makin intens akibat fenomena global dan adanya rehabilitas dari bencana alam, kebijakan operasi militer pengamanan perbatasan, dan daerah rawan pengamanan pulau-pulau terdepan," jelas dia.

Sumber: Koran Jakarta